Ranggonseni.com - Sekaul kanda, Nyimas Ratu Junti bersumpah untuk menjadi 'prawan sunti'. Menolak menikah dan tidak mau bersentuhan dengan laki-laki. Para Ki Gedeng di sekitarnya tidak ada yang berani menggodanya. Sudah minder duluan.
Konon, Negara Junti adalah negeri yang makmur sentosa. Negeri kecil yang kaya raya. Penguasanya seorang yang sakti mandraguna. Ki Gedeng Junti merupakan pendekar kanuragan pilih tanding. Gapura dan keratonnya dibuat dari bambu 'tepung gelang'. Sangat kokoh dan berlapis-lapis.
Pada suatu hari datanglah saudagar kaya raya berdagang di Pelabuhan Cimanuk Dermayu. Nama saudagar itu Dampu Awang. Didengarnya kabar mashyur tentang kecantikan dan sumpah Ratu Junti. Ia pun meminta bantuan kepada seseorang untuk mengantarnya ke negara Junti.
Perjalanan sehari semalam mengantarnya ke keraton tepung gelang itu. Setelah bertemu dengan Ki Gedeng Junti dan memberikan hadiah berupa 'mas picis dunya brana'. Dampu Awang menjelaskan bahwa dirinya seorang saudagar kaya raya tapi masih perjaka tingting.
"Negeri tuan yang sudah kaya pasti akan lebih makmur sentosa jika punya menantu yang pintar berdagang". Demikian Dampu Awang meyakinkan calon mertuanya.
"Saya tidak kuasa memutus, tuan saudagar. Biarlah putri saya yang menjawab".
Dampu Awang kemudian berkeliling keraton, tiap orang yang ditemui diberinya emas perhiasan. Sambil berkata "Saya adalah calon suami Ratu Junti". Merasa didesak oleh ulah Dampu Awang, Ratu Junti lalu mengumumkan sayembara.
"Barang siapa yang bisa merobohkan Keraton Pring Ori dalam semalam. Aku akan tunduk dan mengabdi kepadanya".
Mendengar sayembara itu Dampu Awang mengumumkan kepada semua rakyat Junti, "Hei wong Junti, carilah emas-emasku malam ini. Akan saya sebar di sekitar Keraton Pring Ori ratu kalian. Bawalah alat-alat-alat untuk menemukannya".
Sementara itu, rakyat Junti pada mengajak sanak keluarganya yang tinggal di desa lain. Berdatanganlah penduduk yang sangat banyak dari berbagai arah. Mereka membawa obor, linggis, pacul dan wadung.
Begitu matahari tenggelam, Dampu Awang mulai menghujani keraton dengan beraneka macam emas perhiasan. Terselip-selip diantara rumpun bambu-bambu. Rakyat Junti pun beramai-ramai merobohkan kuta gapura dan mulai mencari emas perhiasan.
Merasa malu akan terkalahkan, Ratu Junti beserta anak angkatnya Ayu Rarasati melarikan diri ke Padepokan Karang Gayam. Ratu Junti pernah mendengar karomah Syekh Bentong sewaktu di Dermayu. Barangkali dirinya juga akan ditolong oleh sang waliyullah tersebut.
Konon, Negara Junti adalah negeri yang makmur sentosa. Negeri kecil yang kaya raya. Penguasanya seorang yang sakti mandraguna. Ki Gedeng Junti merupakan pendekar kanuragan pilih tanding. Gapura dan keratonnya dibuat dari bambu 'tepung gelang'. Sangat kokoh dan berlapis-lapis.
Pada suatu hari datanglah saudagar kaya raya berdagang di Pelabuhan Cimanuk Dermayu. Nama saudagar itu Dampu Awang. Didengarnya kabar mashyur tentang kecantikan dan sumpah Ratu Junti. Ia pun meminta bantuan kepada seseorang untuk mengantarnya ke negara Junti.
Perjalanan sehari semalam mengantarnya ke keraton tepung gelang itu. Setelah bertemu dengan Ki Gedeng Junti dan memberikan hadiah berupa 'mas picis dunya brana'. Dampu Awang menjelaskan bahwa dirinya seorang saudagar kaya raya tapi masih perjaka tingting.
"Negeri tuan yang sudah kaya pasti akan lebih makmur sentosa jika punya menantu yang pintar berdagang". Demikian Dampu Awang meyakinkan calon mertuanya.
"Saya tidak kuasa memutus, tuan saudagar. Biarlah putri saya yang menjawab".
Dampu Awang kemudian berkeliling keraton, tiap orang yang ditemui diberinya emas perhiasan. Sambil berkata "Saya adalah calon suami Ratu Junti". Merasa didesak oleh ulah Dampu Awang, Ratu Junti lalu mengumumkan sayembara.
"Barang siapa yang bisa merobohkan Keraton Pring Ori dalam semalam. Aku akan tunduk dan mengabdi kepadanya".
Mendengar sayembara itu Dampu Awang mengumumkan kepada semua rakyat Junti, "Hei wong Junti, carilah emas-emasku malam ini. Akan saya sebar di sekitar Keraton Pring Ori ratu kalian. Bawalah alat-alat-alat untuk menemukannya".
Sementara itu, rakyat Junti pada mengajak sanak keluarganya yang tinggal di desa lain. Berdatanganlah penduduk yang sangat banyak dari berbagai arah. Mereka membawa obor, linggis, pacul dan wadung.
Begitu matahari tenggelam, Dampu Awang mulai menghujani keraton dengan beraneka macam emas perhiasan. Terselip-selip diantara rumpun bambu-bambu. Rakyat Junti pun beramai-ramai merobohkan kuta gapura dan mulai mencari emas perhiasan.
Merasa malu akan terkalahkan, Ratu Junti beserta anak angkatnya Ayu Rarasati melarikan diri ke Padepokan Karang Gayam. Ratu Junti pernah mendengar karomah Syekh Bentong sewaktu di Dermayu. Barangkali dirinya juga akan ditolong oleh sang waliyullah tersebut.
Singkat cerita mereka berdua telah sampai di Karang Gayam. Dengan nafas yang kembang-kempis, Ratu Junti bersungkem dan memohon perlindungan kepada Syekh Bentong. Diceritakanlah bahwa dirinya dipaksa kawin oleh saudagar dari Cina.
Dampu Awang dan pasukan se-konting terus mengejarnya sampai ke Karang Gayam. Ia kaget lantaran Ratu Junti dilindungi oleh seorang ulama. Putra dari pengasuh Pesantren Quro di Karawang. Ia pun tersadar dan malu atas perbuatannya, karena telah memaksa Ratu Junti yang menolak cintanya itu.
Ia lalu berpamitan dan kembali meneruskan perjalanan dagangnya. Anak buahnya terheran-heran dan bertanya. "Kenapa tuan menyerah? kerugian kita sudah banyak. Sudah berpeti-peti emas perhiasan dikeluarkan".
Dampu Awang menjawab, orang yang kita temui tadi adalah anak dari ulama dan saudagar besar di Karawang. Santri-santrinya banyak. Putra Kerajaan Sunda Galuh pun berguru kepada ulama tersebut. Repot urusannya. Lebih-lebih saya tidak mau digosipin oleh sesama saudagar.
Di Karang Gayam, Ratu Junti menyatakan masuk Islam di bawah bimbingan Syekh Bentong. Putri angkatnya, Ayu Rarasati diserahkanlah untuk mengabdi dan diambil sebagai istri. Ki Gedeng Junti dan wadyabalanya turut menghadiri pernikahan Syekh Bentong dan Ayu Rarasati.
Kepergian Ki Gedeng Junti disusul oleh rakyatnya. Satu dua orang berdatangan tiap hari dan terus menetap di Karang Gayam. Dalem Negara Junti pun menjadi kosong dan sepi.
Sebaliknya Karang Gayam menjadi ramai. Apa yang dicita-citakan Syekh Bentong telah terwujud. Hidup di dunia apalagi yang ditunggu. Ia lalu menceritakan maksud kepada mertua angkat sekaligus santrinya itu, Ratu Junti. Ia ingin pergi haji ke tanah suci di Mekkah.
Demikianlah, kisah Ratu Junti dan dan sumpah sucinya. Jangan lewatkan kisah lanjutannya. Nyimas Ratu Junti berguru kepada Syekh Siti Jenar. (Meneer Pangky/RS)***
Dampu Awang dan pasukan se-konting terus mengejarnya sampai ke Karang Gayam. Ia kaget lantaran Ratu Junti dilindungi oleh seorang ulama. Putra dari pengasuh Pesantren Quro di Karawang. Ia pun tersadar dan malu atas perbuatannya, karena telah memaksa Ratu Junti yang menolak cintanya itu.
Ia lalu berpamitan dan kembali meneruskan perjalanan dagangnya. Anak buahnya terheran-heran dan bertanya. "Kenapa tuan menyerah? kerugian kita sudah banyak. Sudah berpeti-peti emas perhiasan dikeluarkan".
Dampu Awang menjawab, orang yang kita temui tadi adalah anak dari ulama dan saudagar besar di Karawang. Santri-santrinya banyak. Putra Kerajaan Sunda Galuh pun berguru kepada ulama tersebut. Repot urusannya. Lebih-lebih saya tidak mau digosipin oleh sesama saudagar.
Di Karang Gayam, Ratu Junti menyatakan masuk Islam di bawah bimbingan Syekh Bentong. Putri angkatnya, Ayu Rarasati diserahkanlah untuk mengabdi dan diambil sebagai istri. Ki Gedeng Junti dan wadyabalanya turut menghadiri pernikahan Syekh Bentong dan Ayu Rarasati.
Kepergian Ki Gedeng Junti disusul oleh rakyatnya. Satu dua orang berdatangan tiap hari dan terus menetap di Karang Gayam. Dalem Negara Junti pun menjadi kosong dan sepi.
Sebaliknya Karang Gayam menjadi ramai. Apa yang dicita-citakan Syekh Bentong telah terwujud. Hidup di dunia apalagi yang ditunggu. Ia lalu menceritakan maksud kepada mertua angkat sekaligus santrinya itu, Ratu Junti. Ia ingin pergi haji ke tanah suci di Mekkah.
Demikianlah, kisah Ratu Junti dan dan sumpah sucinya. Jangan lewatkan kisah lanjutannya. Nyimas Ratu Junti berguru kepada Syekh Siti Jenar. (Meneer Pangky/RS)***