Ini tentang lagu ngobor kodok yang viral itu. Yang sudah ditonton lebih dari satu juta kali itu. Yang dikarang oleh Amin Hermawan itu. Yang dinyanyikan oleh pendatang baru itu. Evi Shandra namanya.
Lagu-lagu dengan tema tragedi cinta dan rumah tangga memang acapkali diterima di masyarakat. Sebagaimana Soekarba dan Embun membagi tiga kategori besar topik lagu-lagu tarling.
Sepertinya lagu ini mewakili keresahan mamah-mamah muda. Yang suaminya nakal, yang suaminya suka main serong, yang suaminya doyan selingkuh.
Bisa jadi cerita ini diambil dari kisah nyata. Saya membayangkan adalah Si Dadap, yang profesinya tukang ngobor kodok itu. Yang biasa memasok kodok di restoran swike Jatibarang itu.
Pendapatannya sebagai tukang ngobor kodok pas-pasan. Makanya, istri di rumah disuruh belajar irit. Blajara medit. Jangan buang-buang uang sembarang.
Berhubung ia sering pindah-pindah ketika me-ngobor kodok. Rupanya ia sering mampir di saban warung untuk istirahat.
Banyak pelayan yang ia temui, tapi nggak pernah tergoda. Apalah daya saat mampir di warung sunda. Ia terpesona dengan pelayannya yang berambut pirang.
Usut punya usut si pelayan juga kesepian. Sering ditinggal suami. Mereka berdua jadi tarik-menarik seperti dua kutub magnet.
Jadi, sehabis me-ngobor kodok. Ia juga me-ngobor di warung sunda. Kalo di sawah ia menangkap kodok. Kalo di warung yang ditangkap si rambut pirang itu.
Begitulah seterusnya yang terjadi, jadi rutinitas baru. Berulang sampai berkali-kali. Istri di rumah mulai curiga. Si Dadap setorannya mulai berkurang.
Sekali dua kali mungkin wajar, kali aja kodok-nya dapat sedikit. Karena keseringan, yang tadinya maklum malah mulai berprasangka.
Selidik punya selidik. Istrinya mulai jadi detektif. Tanya-tanya sama teman se-profesi ngobor kodok. Kalo ngobor kemana saja. Istirahat di warung mana.
Entah apesnya Si Dadap, salah strategi, atau memang aslinya masih amatir. Rencana ngobor si denok di Warung Sunda terbaca oleh istrinya.
Belum tahu apakah si denok sudah ditangkap oleh Si Dadap. Atau masih me-rindik-rindik. Yang jelas Nyonya Dadap sudah kalap me-labrak masuk ke dalam warung.
Sekejap melihat motor suaminya diparkir di depan warung. Hatinya panas bara, meski angin malam waktu itu lumayan sejuk.
Ia tak sabar, digedor-gedorlah pintu belakang warung. Ternyata dugaannya benar. Ia dapati dua kodok sedang telanjang basah. Habis main air.
Keributan di warung membuat geger pelanggan yang sedang ngaso di depan. Kedatangan orang lain, membuat Nyonya Dadap makin menjadi-jadi.
"Ana kodok, ana kodok. Kodok kawin. Menea pengen ndeleng bli?". (Meneer Pangky/RS)***
Sekali dua kali mungkin wajar, kali aja kodok-nya dapat sedikit. Karena keseringan, yang tadinya maklum malah mulai berprasangka.
Selidik punya selidik. Istrinya mulai jadi detektif. Tanya-tanya sama teman se-profesi ngobor kodok. Kalo ngobor kemana saja. Istirahat di warung mana.
Entah apesnya Si Dadap, salah strategi, atau memang aslinya masih amatir. Rencana ngobor si denok di Warung Sunda terbaca oleh istrinya.
Belum tahu apakah si denok sudah ditangkap oleh Si Dadap. Atau masih me-rindik-rindik. Yang jelas Nyonya Dadap sudah kalap me-labrak masuk ke dalam warung.
Sekejap melihat motor suaminya diparkir di depan warung. Hatinya panas bara, meski angin malam waktu itu lumayan sejuk.
Ia tak sabar, digedor-gedorlah pintu belakang warung. Ternyata dugaannya benar. Ia dapati dua kodok sedang telanjang basah. Habis main air.
Keributan di warung membuat geger pelanggan yang sedang ngaso di depan. Kedatangan orang lain, membuat Nyonya Dadap makin menjadi-jadi.
"Ana kodok, ana kodok. Kodok kawin. Menea pengen ndeleng bli?". (Meneer Pangky/RS)***